Antara Logika dan apa yang kau Rasa

Konon katanya kaum Adam lebih mudah memisahkan yang namanya Logika dan perasaan, Iya dia bilang Iya jika Tidak dia akan katakan tidak. Jarang sekali mereka kemudian menjilat air liurnya kembali. Ntah jurus atau rumus apa yang dipakai kaum Adam ini untuk memisahkan kedua hal tsb.

Bagi Kaum Hawa, sudah bukan rahasia umum cenderung berlaku bodoh dan idiot jika sedang menghadapi situasi dan kondisi dimana dua elemen ini bertemu dan dalam posisi yang tidak sejajar, Jarang sekali ada yang expert dalam hal ini di kaum Hawa. Ntah virus apa yang sudah mengacaukan sistem ini.

Aku termasuk kaum Hawa yang tidak pintar memisahkan kedua elemen tsb, sialnya ini disadari dengan sesadar-sadarnya, Kelihatannya yang sedikit rusak dan tercemar adalah dibagian otak bukan hati.

Pernah ada teman yang memberi tahu hal demikian :

Segala sesuatu yang kemudian dianggap sebagai apa yang dirasa oleh hati adalah tidak nyata, bagaimana sebuah hati bisa menimbulkan rasa tertentu? yang benar adalah otak mu-lah yang melakukannya, Tak percaya? Seandainya kau patah hati berat maka yang akan terjadi kemudian adalah perasaan yang hancur lebur, benarkah demikian? Coba disaat patah hati tsb kau coba untuk tak memikirkan perihal tsb, apakah rasa sakit akibat patah itu msh ada dan terasa? tidak-kan? buktinya kau masih bisa tertawa dengan riang ditengah teman2mu atau saat membaca joke yang menggelitik? rasa itu akan kembali saat kau sendirian dikamar mu, apalagi pas malam2? duh…. taraso bangetkan?

Merenungkan hal tsb diatas, rasanya ada benarnya… yang membuat susah pikiran dan yang membuat senang pikiran termsuk didalamnya soal hati, feel good or feel bad semuanya ada di diri kita sendiri, mau dibuat susah ya jadi susah… mau dibuat happy ya jadinya happy.

Emang sih ada beberapa hal yang bisa terjadi diluar kendali kita, tapi tetap saja kita bisa membuat hal tsb menjadi semakin menjadi berita baik or menjadi semakin buruk dan porak poranda, so kalo aku bilang cara tercepat alias express untuk mengobati perasaan sedih/kecewa/buruk adalah alihkan segera pikiranmu kehal lain yang lebih penting dan berguna.

Toh seperti Firman Tuhan bilang, kekhawatiranmu tidak akan menambah sejengkalpun kebaikan, masalah akan tetap menjadi masalah, yang sudah terjadi takkan bisa di ubah, selain menerima kenyataan dan kembali bangkit adalah solusi yang tepat dari pd siang malam kepikiran kemudian mengeringkan tulang.

Back about Logika dan apa yang di rasa hati kadang tak bisa seiring adalah masalah yang lain, Secara logika atau daya pikirmu mungkin kau tau yang terbaik untuk dirimu tapi sometimes ‘hati’mu menolak dan memilih hal yang lain. Maka tampaknya oleh diri kita sendiri yang namanya ‘hati’ tsb tidak bisa diajak pinter atau melihat kenyataan. Why? karna hati masuk dalam kategori dunia maya sedangkan logika base on reality. Pilih mana? yang jelas nyata atau hanya fatamorgana?

Simple yang bisa dikatakan tapi rumit untuk dijalankan. Namun sebuah sikap tetap harus diambil. Apakah yang namanya hati tsb harus selalu diperingati hingga ia tersadar dan mau searah dgn apa yg ada di Logika? Cukup sabarkah untuk melakukannya? Sungguh sayang jika penyadaran itu terjadi dikala segalanya telah menjadi semakin rumit dan kacau.

Karna masalahnya bukan antara memilih sesuai Logika atau memilih sesuai apa yg dirasa di hati, tapi sudah kepada ada sebuah hati yang harus diobati. Jika hati sebenarnya tidak nyata? mengapa sakit dan pilunya begitu nyata?

Sedalam itu rasa sakitnya sudah sedalam itu juga kau pernah mencapai kedalamannya, aku tak mau menganggap aku sudah tau sedalam itu, yang aku rasa aku sudah pernah merasa sakitnya sampai kedasar, ya menyentuh dasar hatiku

Sebenarnya tak akan mencapai kesana jika aku tak membiarkan pikiranku menggiringnya kesana, mengapa harus merugikan diri sendiri? Jika ada pihak lain yg mencoba melakukannya dan berhasil setidaknya kau akan disebut korban sebuah kejahatan dan bukan sebagai pelaku bunuh diri, jangan bodoh…

Tapi jika disuruh memilih menjadi orang bodoh atau kelihatan bodoh oleh orang lain daripada menjadi orang yang jahat, aku rela disebut sebagai pemelihara kebodohan. Aku akan pergi dengan otak kosong tp hati yang melimpah… daripd pergi dengan otak penuh cairan kejahatan tp hatinya cacat.

Catatan : Kejahatan ? ya jahat…  Aku baru tau mengapa pelaku pembunuhan berencana hukumannya lbh berat drpd org yg membunuh karna emosi sesaat atau karena terjebak.

6 Responses to “Antara Logika dan apa yang kau Rasa”

  1. Joni Says:

    Sepertinya wanita lebih membutuhkan hikmat daripada pria… :D so, banyak2 baca Amsal aja deh :p

  2. Yuliana Says:

    Jangan gitu dong.. perkara baca Amsal mah untuk semua kaum, baik Hawa maupun Adam.

  3. Philips Says:

    dulu mungkin cowo lebih berat logika daripada perasaan..
    tapi sekarang gua rasa imbang2 lah.. kata orang medan sebelas duabelas.. cowo juga banyak main dengan perasaan.. abis enak sih nurutin perasaan.. kadang2 sakit hari.. putus cinta.. kl dinikmati kesedihannya enak juga.. anggap aja nonton film sedih.. hihihih

  4. Yuliana Says:

    Hehehhe.. bisa aja lu Lip… Kalo sudah sakit hati emang paling enak ya dinikmatin aja, habis mau ngapain lg coba? Yg jelas jgn sampai larut terlalu dalam aja. Life must go on!Cia You… 1 pintu tertutup, pintu lain akan terbuka, mati 1 tumbuh 1000 <– Menghibur diri. But it’s true kok! Buka mata lebar2… lapangkan dada… perbanyak maaf dan senyum ^0^

  5. dauRIE Says:

    patah hati dan jatuh cinta…bikin Rie jadi produktif nulis essai/puisi yg bagus…hehehe…
    kalo soal rasa, Rie masih punya serpihannya. Skrg yg jadi problem, otak Rie ketinggalan di pulau semak daun, deket karang tempat bat fish sekeluarga bermukim…gimana donk ?

  6. Yuliana Says:

    Daurie : Hahaha .. :P selama jiwa dikandung badan, usah lara takkan kembali. Angkat ranselmu dan jemput matahari Pulau… Dia setia.. dia setia…. sekeluarga disana tunggu rindu cipratan Fin Pink mu :P

Leave a Reply