Pusat khotbah Dunia

Dari Email….

———-

Mother Teresa berkata bahwa: The preaching point is not where the meeting point is. Maksudnya, poin dari khotbah bukan ada di tempat pertemuan. Lalu dimana? Poin khotbah itu kelihatan nyata pada waktu kamu liat sapu dan langsung bertindak jika melihat lantai kotor, katanya. Ini satu hal yang sangat sederhana tetapi jelas menunjukkan poin kehidupan.

Pada waktu ada seseorang meminta agar saya menjadi mentornya, dia mungkin mengharapkan saya untuk mengajari bagaimana cara berkhotbah, bagaimana cara berdoa, bagaimana memiliki iman, dsb. Lalu, saat dia mulai masuk “sekolah” awal di rumah saya, saya memberikan ember, siap mengepel lantai, menyikat WC, mencuci mobil, memasak. Kemudian saya berpesan dengan serius: jika semua pekerjaan sudah selesai, kalian harus berdoa dan baca Firman, karena saya membuat investasi terbesar dalam hidup kalian melalui waktu untuk dekat dengan Tuhan dan mencari wajah-Nya.

Berhari-hari hanya itu saja yang saya perintahkan untuk dilakukan sampai berbulan-bulan atau mungkin sampai bertahun-tahun sebelum mereka masuk ke “pelayanan yang sesungguhnya” yang mereka dambakan, yaitu mimbar.

Saya tahu mereka bosan, mengeluh dalam hati dan merasa diperlakukan tidak layak. menej keuangan dalam keadaan kepepet, bagaimana memiliki daya juang tinggi karena tidak ada seorang pun yang diharapkan, bagaimana bergumul dengan Tuhan sampai Dia menjawab. Dannnn, dari semua perjuangan yang dilalui dengan airmata itulah Tuhan baru sanggup membawa saya berdiri di mimbar-mimbar.

Kami tidak menghitung berapa saja e-mail yang masuk meminta untuk bergabung dalam pelayanan kami. Pelayanan ini bukan pelayanan favorit, pelayanan ini bukan pelayan bergengsi. Kami tidak menyediakan luxury, kami tidak menyediakan menu mahal, kami tidak mengajar bagaimana menjadi orator terkenal. Kami mengajar kerendahan hati, kami mengerat carang-carang kumal, kami memotong kebiasaan-kebiasaan yang menghalangi pertumbuhan, kami tidak menampilkan kemewahan, kami hidup sederhana – kami mengikuti jalan Kristus.

Pada waktu Yesus kelelahan, Dia tidak mungkin mencuci pakaian-Nya, murid-muridnyalah yang membereskan semuanya. Pada saat Yesus kelelahan karena perjalanan jauh, murid-muridnyalah yang membelikan makanan, sementara Dia ngadem di sumur, deket air. Pada waktu Yesus kehabisan roti, Dia meminta murid-murid-Nya mencari. Pada waktu Yesus butuh tempat ibadah, disuruhnyalah mereka mencari sebuah tempat dan berbicara kepada pemiliknya. Pada waktu Yesus butuh transportasi, murid-muridnyalah yang mencarikan keledai tertambat. Pada waktu Yesus butuh uang untuk membayar pajak, Petrus pergi memancing.

Tetapi, Dia telah mengajar mereka semuanya jalan untuk menjadi yang terbesar, yaitu dimulai dari perjalanan seorang hamba. Dia mengajar, Dia menemani, Dia membimbing, Dia membalut, Dia memberi keteladanan. Dia sudah melalui semuanya; Dia merupakan teladan terbesar, Dia membasuh kaki murid-murid-Nya dan mati bagi mereka.

Poin kekristenan bukan saat kita berada di hadapan banyak orang, bukan pada saat kita tampil dengan jas atau gaun meyakinkan. Kekristenan adalah perjalanan hidup sehari-hari. Kekristenan ditunjukkan lewat kehidupan antar sesama, dalam pekerjaan, dalam lingkungan, menghadapi orang-orang yang berlaku kasar terhadap kita, menghadapi orang-orang yang tidak tahu diri, menghadapi realita kehidupan rutin yang sepertinya kecil artinya. Kekristenan adalah perjalanan sehari-hari yang akan menentukan akhir dari perjuangan kita. Perjuangan akhir sering ditentukan oleh perjuangan sehari-hari dan kesetiaan dari waktu ke waktu sampai kesudahan.

Pada akhir-akhir karir hidup Yusuf, Alkitab menuliskan bahwa dia mengajar tua-tua, pembesar-pembesar sekehendak hatinya (Mazmur 105). Dia menjalankan sistim kenegaraan Mesir sekehendak hatinya, semua sistim pemerintahan ada di bawah pimpinannya. Tetapi, apakah dia langsung berada disana? Dia harus melewati airmata, menjalankan kehidupan perbudakan, dianiaya, difitnah, dimasukkan penjara, diperlakukan tidak adil selama 13 tahun. Dia harus dimurnikan lewat api; bahan-bahan murah lainnya yang tidak berguna dan tidak berharga disingkirkan dulu lewat api yang panas.

Jika Allah mau membentuk orang pilihan-Nya, Dia tidak memulainya dengan cara menimbuni uang, langsung menduduki posisi tinggi, atau dengan prestige. Dia memulainya dari kerendahan hati, ketulusan motivasi, pembentukkan hati; barulah Dia menampilkan ke permukaan, karena layak dipakai sebagai alat-Nya, dipandang layak untuk maksud-maksud mulia (2 Timotius 2:20-21).

Ada yang kabur karena tidak tidur di ruang AC, ada yang tidak tahan karena tidak mendapatkan mobil, ada yang lari karena merasa mendapatkan uang yang kurang cukup. Tetapi kami tidak dapat memulai dari mimbar, kami harus memulai dari WC, dari dapur, dari daerah ketidaknyamanan mereka – yang dimana saya sudah melaluinya selama bertahun-tahun dengan airmata. Dari sana saya tahu bagian mana yang harus dibersihkan, yang mana yang harus dibereskan, mana yang harus dirapikan, bagaimana me

2 Responses to “Pusat khotbah Dunia”

  1. Andre Says:

    mmm…menarik sekali….memang kayaknya mesti mengembalikan iman ke dasar yang benar….Great blog Yul !

  2. Yuliana Says:

    Benar, Seperti seharusnya : Menjadikan Yesus sebagai Teladan!

Leave a Reply